Perjanjian Simulasi

Salah satu penyebab adanya ketidaksesuaian antara kehendak dan pernyataan adalah karena para pihak tidak menginginkan akibat hukum dari apa yang mereka nyatakan. Hal ini kemudian dituangkan ke dalam suatu perjanjian simulasi. Dapat dikatakan bahwa di antara para pihak telah terjadi persekongkolan untuk secara diam-diam dan secara sadar melakukan suatu tindakan hukum yang menyimpang dari apa …

Baca SelengkapnyaPerjanjian Simulasi

Beberapa Penyebab Terjadinya Ketidaksesuaian Antara Kehendak dan Pernyataan

Pada artikel sebelumnya telah dibahas beberapa teori yang digunakan apabila terdapat ketidaksesuaian atara kehendak dan pernyataan. Adanya ketidaksesuaian antara kehendak dan pernyataan dapat disebabkan karena beberapa hal, yaitu: Pernyataan (sebenarnya) tidak diinginkan; pernyataan betul diinginkan, tetapi tidak dalam arti sebagaimana diterima (ditafsirkan) pihak lawan; pernyataan diinginkan sesuai dengan yang dimaksud oleh pihak lawan, tetapi akibat …

Baca SelengkapnyaBeberapa Penyebab Terjadinya Ketidaksesuaian Antara Kehendak dan Pernyataan

Teori-Teori yang Digunakan Untuk Menentukan Terjadinya Kesepakatan

Sebagai salah satu syarat sahnya perjanjian, kesepakatan memegang peran penting dalam proses terbentuknya suatu perjanjian. Kita dapat dengan mudah mengenali terjadinya kesepakatan apabila terdapat kesesuaian antara penawaran dan penerimaan. Namun akan timbul suatu masalah apabila tidak terdapat kesesuaian antara penawaran dan penerimaan. Misalnya terdapat kesalahan dalam menuliskan jumlah pesanan. Ada beberapa teori yang berusaha untuk …

Baca SelengkapnyaTeori-Teori yang Digunakan Untuk Menentukan Terjadinya Kesepakatan

Penawaran dan Penerimaan Sebagai Bagian dari Kesepakatan

Kesepakatan merupakan salah satu syarat sahnya perjanjian. Suatu kehendak saja tidak serta merta menimbulkan perjanjian. Kehendak tersebut harus terlebih dahulu dinyatakan atau disampaikan oleh pihak yang satu kepada pihak yang lain secara timbal balik. 1Herlien Budiono, Ajaran Umum Hukum Perjanjian dan Penerapannya di Bidang Kenotariatan, Bandung: Citra Aditya, 2010, Hlm. 74. Suatu kesepakatan diawali dengan …

Baca SelengkapnyaPenawaran dan Penerimaan Sebagai Bagian dari Kesepakatan

Syarat-Syarat Sahnya Perjanjian

Untuk mengetahui apakah suatu perjanjian adalah sah atau tidak sah, maka perjanjian tersebut harus diuji dengan beberapa syarat. Pasal 1320 KUH Perdata menentukan empat syarat untuk sahnya suatu perjanjian, yaitu: sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; kecakapan untuk membuat suatu perikatan; suatu hal tertentu; suatu sebab yang diperkenankan. Syarat pertama dan kedua disebut sebagai syarat subyektif …

Baca SelengkapnyaSyarat-Syarat Sahnya Perjanjian

Bagian-Bagian Perjanjian

Suatu perjanjian terdiri dari beberapa bagian, yaitu bagian essentialia, bagian naturalia dan bagian accidentalia. Beberapa literatur menyebut pembagian ini sebagai unsur-unsur perjanjian, yaitu unsur essetialia, unsur naturalia dan unsur accidentalia. Di artikel ini saya mengikuti istilah yang digunakan oleh Herlien Budiono, yaitu bagian-bagian perjanjian, untuk membedakannya dari unsur-unsur perjanjian. Bagian essentialia Bagian essentialia merupakan bagian …

Baca SelengkapnyaBagian-Bagian Perjanjian

Asas-Asas Perjanjian

Secara umum dikenal tiga asas perjanjian, yaitu asas konsensualisme, asas kekuatan mengikat dan asas kebebasan berkontrak. Menurut Herlien Budiono, ketiga asas tersebut perlu ditambah dengan asas keseimbangan, sehingga lebih sesuai dengan keadaan di Indonesia. 1Herlien Budiono, Ajaran Umum Hukum Perjanjian dan Penerapannya di Bidang Kenotariatan, Bandung: Citra Aditya, 2010, Hlm. 29. Asas konsensualisme (consensualisme) Pada …

Baca SelengkapnyaAsas-Asas Perjanjian

Unsur-Unsur Perjanjian

Dari berbagai pengertian perjanjian yang telah diuraikan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa suatu perjanjian terdiri dari beberapa unsur, yaitu: kata sepakat dari dua pihak atau lebih; kata sepakat yang tercapai harus bergantung kepada para pihak; keinginan atau tujuan para pihak untuk timbulnya akibat hukum; akibat hukum untuk kepentingan pihak yang satu dan atas beban yang lain …

Baca SelengkapnyaUnsur-Unsur Perjanjian

Jenis-Jenis Perjanjian

Secara umum perjanjian dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu perjanjian obligatoir dan perjanjian non obligatoir. 1Komariah, Hukum Perdata, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2002, Hlm. 169. Perjanjian obligatoir adalah perjanjian yang mewajibkan seseorang untuk menyerahkan atau membayar sesuatu. 2Ibid. Sedangkan perjanjian non obligatoir adalah perjanjian yang tidak mewajibkan seseorang untuk menyerahkan atau membayar sesuatu. 3Ibid. Hlm. …

Baca SelengkapnyaJenis-Jenis Perjanjian

Perikatan yang Bersumber dari Perjanjian

Sesuai dengan pembahasan sebelumnya, menurut sumbernya perikatan dibedakan menjadi perikatan yang bersumber dari perjanjian dan perikatan yang bersumber dari undang-undang. Istilah perjanjian berasal dari bahasa Belanda overeenkomst, yang oleh beberapa ahli hukum juga diterjemahkan sebagai persetujuan. Istilah persetujuan digunakan karena untuk terjadinya suatu overeenkomst diperlukan persetujuan dari para pihak. 1P.N.H. Simanjuntak, Pokok-Pokok Hukum Perdata Indonesia, …

Baca SelengkapnyaPerikatan yang Bersumber dari Perjanjian